Situs Resmi SDIT Insan Kamil Majalengka
 
 

Pembangunan Generasi Masa Depan

“Wahai Robb kami,

anugrahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), Dan jadikanlah kami Imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa.”

(al-Furqon: 74)

 Sudah bukan rahasia dan tidak asing lagi ketika kita menyaksikan atau mendengar ada segudang tragedi yang memilukan dalam dunia pendidikan kita. Ada siswa/siswi yang diganggu jin ketika proses belajar mengajar, setres  atau bahkan harus mengakhiri hidupnya karena tidak tembus UNAS dan sangat ironis lagi ketika sebagian siswa/siswi yang lulus kemudian ugal-ugalan di jalan raya yang mengakibatkan masyarakat menjadi resah,  tawuran antar pelajar, oknum pengajar mencabuli anak didiknya bahkan ada oknum kepala sekolah begitu tega menghamili siswinya dan untuk menghilangkan jejaknya kemudian ia menguburnya di kamar mandi dan masih banyak lagi tragedi tsunami kemanusiaan dalam dunia pendidikan yang membuat hati kita sangat miris dan tidak habis pikir.

 Apa gerangan yang sedang terjadi di dunia pendidikan? Siapakah yang harus atau mau bertanggung jawab terhadap tragedi tersebut? Bagaimana nasib masa depan bangsa ini kalau mereka sebagai generasi penerus bangsa ini mentalnya sudah ringkih? Dan banyak lagi sederet pertanyaan yang membuat kita harus mengambil nafas dalam-dalam.

 Islam datang bukan hanya untuk mengatur ibadah yang bersifat vertikal saja atau berhubungan langsung dengan Tuhan (hablum minallaah), tapi juga ia turun untuk mengatur urusan yang bersifat horizontal atau hubungan antar manusia (hablum minannaas) sehingga iapun dapat memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan, karena memang hanya Dialah Yang Maha Tahu atas segala urusan dan ciptaan-Nya baik yang ada di bumi maupun di langit.

Oleh sebab itu Allah SWT menginformasikan kita lewat Kitab yang Agung dan rasul-Nya bahwa untuk mencapai cita-cita haruslah selalu dilandasi kepada nilai (meminjam istilah Ahmad Zairofi AM dalam majalah Tarbawi ed. 195 Th. 10) dan yang dimaksud nilai disini adalah nilai yang asasi yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.

 Bagi orang yang beriman sudah semestinya setiap gerak dalam kehidupan di dunia ini hanya untuk ibadah termasuk dalam pendidikan. Dan untuk mencapai pendidikan yang berkualitas maka harus didorong dari cita-cita, sedangkan cita-cita orang beriman selayaknya mencapai dua capaian yaitu cita-cita jangka pendek atau di dunia dan cita-cita jangka panjang yaitu capaian untuk akhirat.

 Menurut Andi Suhandi S.S.I perlakuan terhadap anak dipengaruhi oleh kesadaran untuk melaksanakan harapan atau cita-cita dan tugas terpenting dalam berkeluarga. Harapan atau cita-cita dan tugas terpenting dalam berkeluarga itu yaitu, pertama, mempunyai pasangan hidup dan keturunan yang menyejukan mata, kedua, menjadi pemimpin orang bertakwa dan ketiga, sebagai cita-cita jangka panjang adalah terbebas dari neraka. Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT:

 “…. Wahai Robb kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), Dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa.” (al-Furqon: 74).

 Hai orang-orang yang beriman,peliharalah dirimu dan keluargamu dari api nerakayangbahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan ….” (at-Tahrim: 6).

 Maka pantas ketika orang yang terlepas dari api neraka disebut juga sebagai orang yang sukses, sebagaimana juga Allah swt menyebutnya:

 “…. Maka barangsiapa yang telah dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung, ….”(ali-Imron: 185).

 Oleh sebab itu-masih menurut beliau, jadikan anak sebagai aset penting untuk meraih sukses keluarga, dengan cara:

  1. Memperlakukan dan mempersiapkan mereka agar mampu menjadi pemimpin umat dan bangsa.
  2. Memperlakukan dan membekali mereka agar mampu menjadi penyelamat orang tua dan keluarga dari neraka.
  3. Mempersiapkan mereka menjadi orang yang kuat agar nanti kita tidak meninggalkan generasi yang lemah (an-Nisa:9).

Karena sejatinya anak-anak kita adalah:

  1. Aset umat yang dititipkan Allah swt di keluarga.
  2. Modal berharga yang dipinjamkan untuk memperoleh keuntungan besar di dunia dan akhirat.

 Mudah-mudahan ketika pendidikan kita dibangun di atas prinsip yang kokoh maka akan memungkinkan terbangun generasi seperti yang diimpikan Hasan al-Banna yaitu generasi muda yang memiliki imunitas agama, benteng akhlak, pengetahuan tentang hukum-hukum agama dan kebanggaan terhadap kejayaan agama di masa lalu peradaban yang luas. Maka pada akhirnya umat dan bangsa ini pun menjadi tumbuh besar dan bermartabat.

 Tentunya ini bukan solusi segala-galanya yang bisa menjawab tuntas terhadap tragedi sebagaimana contoh di atas, tapi setidaknya saya bisa ikut sedikit andil untuk memecahkan problematika umat ini. Kita masih membutuhkan solusi nyata, kita perlu bekerjasama di lapangan baik dari praktisi, civitas akademika, keluarga, masyarakat dan juga para pemimpin yang bisa mengayomi serta memberi suri tauladan yang baik.

 Wallahua’alam.

Related Links:

Situs bimbingan dan konseling

Februari 6, 2012 Pendidikan No comments yet


Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top